Silampari Terkini | Menggali Suara Menjadi Berita

Puluhan Suku Anak Dalam Datangi Kantor Bupati Musi Rawas, Minta Kepastian Cari Nafkah dari Brondolan Sawit ‎

 


‎Musi Rawas – Puluhan warga Suku Anak Dalam (SAD) yang berada di bawah naungan Yayasan Suku Anak Dalam Persada mendatangi Kantor Bupati Musi Rawas, Kamis (23/4/2026). Kedatangan mereka didampingi kuasa hukum serta pengurus yayasan untuk menyampaikan aspirasi terkait kepastian mencari nafkah dari brondolan sawit.
‎Rombongan warga SAD tersebut berasal dari Desa Sungai Pinang, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas.
‎Pembina sekaligus kuasa hukum Yayasan Suku Anak Dalam Persada, Ardian Hadi Darma, S.H, mengatakan kedatangan mereka bertujuan meminta kejelasan mengenai akses mencari brondolan sawit di wilayah perusahaan perkebunan.
‎Menurut Ardian, sebelumnya pemerintah telah menunjuk dua perusahaan, yakni PT Bina Sains Cemerlang dan PT Djuanda Sawit Lestari, sebagai lokasi masyarakat SAD mencari penghasilan melalui pengumpulan brondolan sawit.
‎“Brondolan sawit itu buah sawit yang jatuh ke tanah dan biasanya tidak diambil pihak perusahaan. Dari situlah mereka mencari penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
‎Namun, lanjut Ardian, dalam beberapa kali panen terakhir masyarakat SAD justru mengalami penindakan saat mengambil brondolan sawit.
‎“Mereka sudah tiga kali panen, tetapi langsung ditangkap dan hasil brondolan mereka diambil. Akibatnya mereka kesulitan ekonomi dan datang ke sini untuk meminta perlindungan,” katanya.
‎Setelah melakukan audiensi bersama Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, kata Ardian, telah disepakati akan digelar pertemuan lanjutan bersama pihak perusahaan pada Selasa, 28 April 2026, di Gedung Pertemuan Pemda Musi Rawas.
‎Pertemuan tersebut rencananya akan menghadirkan pimpinan direksi PT Bina Sains Cemerlang dan PT Djuanda Sawit Lestari guna membahas solusi terbaik bagi masyarakat SAD.
‎“Hasil audiensi tadi, kami sepakat bersama pemerintah dan pihak perusahaan akan berdiskusi kembali terkait persoalan ini pada hari Selasa nanti,” jelasnya.
‎Ardian menegaskan pihak yayasan terus melakukan pembinaan kepada masyarakat SAD agar tetap menaati hukum dan tidak melakukan pelanggaran.
‎“Kami sebagai pembina tentu mengarahkan mereka supaya tidak melanggar hukum,” tambahnya.
‎Ia berharap pihak perusahaan dapat bersikap lebih humanis terhadap masyarakat Suku Anak Dalam yang hanya berusaha mencari nafkah demi keluarga.
‎“Harapan kami, jangan terlalu keras terhadap mereka. Mereka hanya mencari makan untuk keluarga, bukan untuk menjadi kaya,” tegasnya.
‎Selain itu, ia juga meminta agar tidak ada tindakan intimidasi maupun penangkapan yang menimbulkan rasa takut.
‎“Tolong perlakukan mereka dengan baik. Mereka juga manusia dan memiliki hak untuk hidup,” pungkasnya.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال