Kegiatan yang berlangsung di Masjid Ar-Rahman Desa Petunang ini dihadiri Kepala Desa Petunang Sakudri beserta perangkat desa, Sekretaris BPD Desa Petunang Biis Nillah, Ketua Badan Pengurus Masjid Ar-Rahman Hasan Basri bersama jajaran pengurus, serta masyarakat dan jamaah masjid.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Petunang Sakudri mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum peringatan Nuzulul Qur’an sebagai sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat persatuan di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Peringatan Nuzulul Qur’an mengingatkan kita pada malam agung saat diturunkannya Al-Qur’an sebagai cahaya penerang dan pedoman dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, serta bernegara,” ujar Sakudri.
Ia menambahkan, semangat kebersamaan dan persatuan sangat penting untuk menghadapi berbagai tantangan di era modern, mulai dari efisiensi, globalisasi, digitalisasi, hingga dinamika geopolitik global.
“Dengan kebersamaan dan persatuan, kita akan mampu menghadapi berbagai tantangan dan mencari solusi demi kemajuan daerah, bangsa, dan negara,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Masjid Ar-Rahman Hasan Basri mengatakan peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momentum penting untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, ajaran Al-Qur’an tidak hanya sekadar dibaca dan dipahami, tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Peringatan Nuzulul Qur’an yang kita selenggarakan malam ini merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Ustadz Raji Ibnu Latif dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menandai awal turunnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa ini terjadi pada bulan suci Ramadan dan memiliki keutamaan besar bagi umat Islam di seluruh dunia.
“Malam Nuzulul Qur’an menjadi pengingat akan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Kitab suci ini berisi ajaran agama serta petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata nuzul yang berarti menurunkan sesuatu dari tempat tinggi ke tempat rendah, serta Qur’an yang merujuk pada kitab suci umat Islam. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an dapat dimaknai sebagai peristiwa turunnya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfuz ke bumi.
Menurutnya, Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi pedoman utama bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan. Keaslian kitab suci ini juga dijamin hingga akhir zaman.
“Dengan memahami makna Nuzulul Qur’an, umat Islam diharapkan semakin menghargai Al-Qur’an sebagai sumber ajaran dan pedoman hidup,” tegasnya.
Ia menambahkan, peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya menjadi peristiwa sejarah semata, melainkan momentum untuk memperbarui komitmen umat Islam dalam mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an.
