Kepala Departemen Formalitas Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Safe'i, menjelaskan bahwa industri hulu migas memegang peran penting dalam memenuhi amanat Presiden terkait dua tugas utama:
1. Peningkatan Produksi, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi mutakhir seperti Enhanced Oil Recovery (EOR).
2. Akselerasi Eksplorasi, yakni percepatan pencarian sumber daya migas baru untuk menjaga ketahanan energi.
Ia menegaskan bahwa hulu migas merupakan bisnis berisiko tinggi, di mana Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) harus menanggung seluruh pembiayaan, teknologi, sumber daya manusia, hingga risiko operasional.
“Ekspektasi ngebor minyak dan gas itu tidak serta-merta ketika tiga pengeboran dilakukan, semuanya berhasil. Satu lokasi rig saja membutuhkan biaya hingga 5–6 juta dolar AS. Jika gagal, asetnya otomatis menjadi milik negara,” jelas Safe’i.
Selain risiko teknis, Safe’i turut menyoroti tantangan perizinan lahan serta dinamika sosial yang semakin kompleks. Menurutnya, hal ini menuntut sinergi kuat antara KKKS, pemerintah daerah, dan masyarakat demi kelancaran operasi.
Dalam sesi penutup, Safe’i menekankan pentingnya akurasi dan kehati-hatian dalam penyampaian informasi oleh media.
“Ilmu tulisan itu hati-hati. Salah menulis bisa menimbulkan persepsi negatif dan berpotensi menimbulkan persoalan lain,” ujarnya.
Dirinya berharap media dapat menjadi mitra strategis SKK Migas dalam memberikan edukasi yang benar, berimbang, dan konstruktif kepada masyarakat.
“Kami berharap teman-teman media ikut membantu menyampaikan edukasi mengenai aturan dan pesan-pesan yang benar kepada masyarakat,” tambahnya.
Melalui kegiatan Edukasi Media 2025 ini, Medco E&P dan SKK Migas Sumbagsel berharap kolaborasi dengan media dapat semakin solid dalam mendorong literasi energi dan menghadirkan pemberitaan migas yang faktual, objektif, dan membangun.
