MUSI RAWAS– Siapa sangka, serbuk kayu yang selama ini dianggap limbah tak bernilai justru menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat Desa Giriyoso, Kecamatan Jayaloka, Kabupaten Musi Rawas. Di balik keberhasilan tersebut, terdapat peran program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh PT Medco E&P melalui pendampingan kelompok perempuan desa sebagai bagian dari implementasi tanggung jawab sosial perusahaan di wilayah operasi hulu migas.
Desa Giriyoso yang memiliki luas wilayah sekitar 1.890,10 hektare dan terdiri dari enam dusun, yakni Dusun I Sukorejo, Dusun II Sidomulyo, Dusun III Giriyoso, Dusun IV Gunungsari, Dusun V Sukodadi, dan Dusun VI Sukajaya, menjadi salah satu contoh bagaimana industri hulu migas mampu menghadirkan dampak ekonomi yang melampaui kegiatan eksplorasi dan produksi energi.
Melalui program pemberdayaan yang dimulai pada tahun 2018, PT Medco bekerja sama dengan Pemerintah Desa Giriyoso memberikan sosialisasi, pelatihan, serta pendampingan kepada masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT). Saat ini terdapat empat kelompok yang aktif, yakni KWT Mekar Jaya di Dusun I, KWT Mekar Sari di Dusun II, KWT Sumber Sari di Dusun III, dan KWT Subur Makmur di Dusun IV.
Salah satu kisah sukses lahir dari KWT Mekar Sari di Dusun II Sidomulyo. Berbekal pelatihan dan pendampingan yang diberikan, kelompok ini mengembangkan usaha budidaya jamur tiram putih yang kini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi anggotanya.
Ketua KWT Mekar Sari, Aisha Mayrani, mulai menekuni budidaya jamur tiram putih sejak tahun 2019. Ia melihat peluang besar dari usaha tersebut karena belum banyak masyarakat yang membudidayakan jamur tiram di wilayahnya. Selain itu, bahan baku utama berupa serbuk kayu mudah diperoleh dan sebelumnya hanya menjadi limbah yang tidak termanfaatkan.
“Awalnya kami mengikuti program dari Medco untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Dari situ kami belajar budidaya jamur tiram hingga akhirnya menjadi usaha yang masih berjalan sampai sekarang,” ujarnya.
Dalam proses budidaya, serbuk kayu dicampur dengan bekatul, dolomit, dan EM4 sebelum dikemas ke dalam baglog. Selanjutnya media tanam dikukus selama delapan jam dan didiamkan selama satu malam sebelum diberikan bibit jamur. Setelah proses tersebut, jamur mulai tumbuh dalam waktu sekitar 50 hingga 60 hari dan dapat dipanen setiap hari.
Keberhasilan budidaya sangat dipengaruhi oleh perawatan yang konsisten, terutama menjaga kelembapan ruang budidaya. Penyemprotan air dilakukan dua kali sehari saat musim kemarau dan satu kali sehari saat musim hujan.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Saat musim panas produksi jamur cenderung menurun sehingga memengaruhi hasil panen. Selain itu, serangan hama juga menjadi kendala yang harus diatasi dengan penggunaan obat pembasmi yang sesuai.
Hasil panen jamur tiram kemudian dipasarkan ke warung-warung sekitar dalam kemasan plastik agar lebih tahan lama. Di sisi lain, PT Medco juga turut membantu memperluas akses pasar dengan menyerap hasil produksi untuk kebutuhan kantin perusahaan secara berkala.
“Kendala terbesar kami sebenarnya di pemasaran. Namun Alhamdulillah, Medco membantu memasarkan hasil panen kami ke kantin perusahaan setiap dua minggu sekali,” kata Aisha.
Keberadaan usaha budidaya jamur tiram ini tidak hanya memberikan tambahan pendapatan bagi anggota kelompok, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi warga sekitar. Pada proses pembuatan baglog dan pengelolaan media tanam, kelompok membutuhkan tenaga kerja tambahan yang melibatkan masyarakat setempat.
Menurut Aisha, manfaat ekonomi yang dirasakan sangat nyata.
“Sangat membantu sekali. Alhamdulillah dari usaha ini kami bisa menabung dan membantu kebutuhan keluarga,” ungkapnya. Sabtu (6/6/2026).
Kisah KWT Mekar Sari menjadi bukti bahwa industri hulu migas tidak hanya berkontribusi terhadap ketahanan energi nasional, tetapi juga mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui program pemberdayaan yang tepat sasaran, sektor hulu migas dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi desa, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan usaha mikro berbasis potensi lokal.
Di tengah tantangan pembangunan pedesaan, sinergi antara SKK Migas, KKKS, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci lahirnya berbagai inovasi ekonomi yang berkelanjutan. Dari sebuah desa di ujung Kecamatan Jayaloka, lahir sebuah cerita tentang bagaimana energi tidak hanya mengalir dari perut bumi, tetapi juga menghidupkan harapan, membuka peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



