Stok Beras Sumsel Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026 Aman, Bulog Siapkan Langkah Strategis Cegah Penumpukan

PALEMBANG – Ketersediaan stok dan stabilitas harga pangan menjelang Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 di wilayah Sumatera Selatan dipastikan dalam kondisi aman. Hal ini terungkap dalam kegiatan diskusi dan peninjauan langsung di Gudang Perum Bulog Sukamaju, Jalan MP Mangkunegara No. A5, Suka Maju, Kecamatan Sako, Palembang, Selasa (24/2/2026).

Dalam peninjauan tersebut, kondisi stok beras di gudang Perum Bulog wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung mendapat apresiasi. Persediaan dinilai terjaga dengan sangat baik, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Bahkan, beras produksi bulan Maret tahun sebelumnya yang telah tersimpan hampir satu tahun masih dalam kondisi layak konsumsi dan berkualitas baik. Hal ini menunjukkan pengelolaan dan perawatan gudang yang dilakukan Bulog berjalan optimal dan penuh ketelitian.

Namun demikian, kondisi tersebut juga menjadi perhatian bersama. Penyimpanan beras dalam jangka waktu terlalu lama dinilai kurang ideal sehingga diperlukan langkah percepatan distribusi, khususnya untuk stok yang mendekati usia satu tahun.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Tidak mungkin beras terus disimpan terlalu lama di gudang. Harus segera ada langkah strategis agar beras tersebut bisa segera keluar dan dimanfaatkan,” ujar pihak terkait kepada awak media.

Selain menjaga stabilitas stok menjelang hari besar keagamaan, Bulog tahun ini juga mendapat penugasan untuk menyerap hasil panen beras dan jagung dari petani. Oleh karena itu, manajemen distribusi yang terukur dan efektif sangat diperlukan agar kapasitas gudang tetap mencukupi dan tidak terjadi penumpukan.

Di sisi lain, capaian produksi daerah turut menjadi sorotan. Kabupaten Banyuasin disebut menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan, bahkan melampaui sejumlah daerah di Pulau Jawa dengan capaian sekitar 2 juta ton.

Meski demikian, tantangan sektor pangan nasional masih cukup besar. Tingginya biaya produksi dalam negeri membuat daya saing beras Indonesia di pasar ekspor relatif tertinggal dibandingkan negara-negara seperti China, Thailand, Vietnam, dan India yang memiliki struktur biaya produksi lebih rendah.

Sebagai langkah awal membuka peluang ekspor, salah satu opsi yang mulai didorong adalah pemanfaatan pasar jamaah haji Indonesia. Dengan jumlah jamaah yang besar serta masa tinggal yang cukup lama di Tanah Suci, kebutuhan konsumsi beras dinilai dapat menjadi potensi pasar tersendiri bagi produk dalam negeri.

Upaya tersebut diharapkan menjadi solusi awal dalam memperluas distribusi beras Indonesia ke pasar internasional, sekaligus menjaga stabilitas stok di dalam negeri, khususnya menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026.


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال